Emas Global Tetap Prospektif Meski Tekanan Harga Berlanjut

Jumat, 06 Februari 2026 | 10:30:10 WIB
Emas Global Tetap Prospektif Meski Tekanan Harga Berlanjut

JAKARTA - Pergerakan harga emas global kembali menjadi sorotan pasar keuangan dunia. 

Pada perdagangan terbaru, logam mulia mengalami tekanan cukup signifikan setelah sebelumnya mencatat reli tajam. Kondisi ini menegaskan bahwa volatilitas masih menjadi karakter utama pasar emas global.

Harga emas tercatat turun nyaris dua persen dalam satu sesi perdagangan. Penurunan tersebut menempatkan emas di level US$4.875,71 per ons atau melemah sekitar 1,8 persen. Meski terkoreksi, kinerja emas sepanjang tahun berjalan masih menunjukkan penguatan yang solid.

Secara tahunan, harga emas telah naik sekitar 13 persen sejak awal tahun. Kenaikan ini mengikuti lonjakan signifikan lebih dari 64 persen yang terjadi sepanjang 2025. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa emas tetap memiliki daya tarik kuat bagi investor global.

Proyeksi Harga Emas Tetap Menguat Tahun Ini

Di tengah tekanan harga jangka pendek, proyeksi jangka menengah emas justru menunjukkan arah yang lebih optimistis. Macquarie Group menaikkan proyeksi rata-rata harga emas untuk beberapa periode ke depan. Penyesuaian ini mencerminkan keyakinan terhadap ketahanan fundamental emas.

Untuk kuartal I 2026, proyeksi harga emas dinaikkan menjadi US$4.590 per ons. Angka ini lebih tinggi dibandingkan estimasi sebelumnya yang berada di level US$4.300 per ons. Penyesuaian tersebut menunjukkan ekspektasi harga yang lebih kuat di awal tahun.

Sementara itu, proyeksi kuartal II 2026 juga mengalami kenaikan. Harga emas diperkirakan berada di kisaran US$4.300 per ons dari sebelumnya US$4.200. Proyeksi ini memperlihatkan konsistensi pandangan positif terhadap logam mulia.

Ketidaksesuaian Fundamental Dan Volatilitas Pasar

Meski proyeksi jangka pendek dan menengah dinaikkan, revisi jangka panjang belum dilakukan. Penundaan ini disebabkan oleh ketidaksesuaian antara fundamental pasar dan volatilitas harga yang dinilai ekstrem. Kondisi tersebut membuat kehati-hatian tetap menjadi pendekatan utama.

Macquarie menilai bahwa pergerakan harga emas saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental. Fluktuasi tajam dianggap lebih dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek. Oleh karena itu, proyeksi jangka panjang masih menunggu stabilisasi pasar.

Untuk keseluruhan tahun 2026, harga emas rata-rata diperkirakan berada di level US$4.323 per ons. Angka ini lebih tinggi dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar US$4.225 per ons. Proyeksi tersebut menegaskan potensi penguatan emas secara tahunan.

Tekanan Pasar Dipicu Dinamika Kebijakan Global

Tekanan besar pada harga emas sempat terjadi pada akhir Januari. Saat itu, emas mencatat penurunan harian terdalam sejak 1983. Penurunan tersebut terjadi sehari setelah harga emas menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Harga emas sempat mencapai US$5.994,82 per ons sebelum mengalami koreksi tajam. Pergerakan ekstrem ini dipicu oleh dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat. Penunjukan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve memicu perubahan ekspektasi pasar.

Selain itu, penguatan dolar AS turut memberikan tekanan tambahan. Indeks dolar naik ke level tertinggi dalam dua pekan. Kondisi ini membuat komoditas berdenominasi dolar, termasuk emas, menjadi lebih mahal bagi pembeli global.

Pergerakan Logam Mulia Lain Ikut Terkoreksi

Tidak hanya emas, pergerakan logam mulia lainnya juga mengalami koreksi. Harga emas spot turun dari level tertinggi dalam hampir sepekan. Sementara itu, perak spot mencatat penurunan yang lebih tajam.

Pekan sebelumnya, emas sempat menyentuh rekor US$5.594,82 per ons. Pada periode yang sama, perak mencapai harga tertinggi sepanjang masa di US$121,64. Kenaikan tajam tersebut kemudian diikuti oleh koreksi signifikan.

Volatilitas ekstrem menjadi ciri utama perdagangan komoditas pekan ini. Pergerakan harga yang cepat mencerminkan sensitivitas pasar terhadap sentimen global. Kondisi tersebut mendorong investor untuk lebih selektif dalam mengambil posisi.

Emas Tetap Menarik Di Tengah Volatilitas Tinggi

Meski mengalami tekanan jangka pendek, emas tetap dipandang sebagai aset strategis. Volatilitas yang tinggi justru membuka peluang bagi investor jangka panjang. Emas masih berfungsi sebagai instrumen lindung nilai terhadap ketidakpastian.

Analis pasar menilai bahwa gejolak harga saat ini merupakan bagian dari penyesuaian alami. Efek kejut dari berbagai sentimen global masih terasa di pasar. Kondisi ini menegaskan pentingnya manajemen risiko dalam berinvestasi.

Dengan prospek harga yang masih positif secara tahunan, emas tetap memiliki daya tarik kuat. Kombinasi fundamental yang solid dan minat investor global menjadi penopang utama. Dalam jangka menengah, emas berpeluang kembali menunjukkan penguatan yang lebih stabil.

Terkini