JAKARTA - Pemerintah Indonesia menetapkan arah baru kebijakan energi nasional menjelang tahun 2026.
Fokus kebijakan ini tidak lagi sebatas penemuan cadangan migas baru, melainkan optimalisasi aset eksisting dan percepatan pembangunan infrastruktur energi strategis. Langkah tersebut dirancang untuk memperkuat kedaulatan energi sekaligus menjaga stabilitas pasokan nasional.
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi menilai tantangan penurunan produksi minyak merupakan realitas yang harus dikelola secara adaptif. Produksi minyak nasional telah mengalami penurunan alami sejak mencapai puncaknya pada 1997. Meski demikian, potensi migas nasional masih dinilai sangat besar jika dikelola dengan pendekatan teknologi dan investasi yang tepat.
Strategi besar ini diarahkan untuk menghubungkan sumber energi di berbagai wilayah Indonesia. Infrastruktur migas diposisikan sebagai tulang punggung pemerataan pasokan energi. Dengan konektivitas yang kuat, distribusi energi diharapkan menjadi lebih efisien dan terjangkau.
Optimalisasi Ribuan Sumur Minyak Idle
Salah satu fokus utama strategi migas adalah optimalisasi sumur minyak tidak aktif atau idle. Data terbaru menunjukkan terdapat 6.305 sumur idle yang masih memiliki potensi hidrokarbon. Ribuan sumur tersebut dinilai sebagai aset strategis yang dapat kembali berkontribusi pada produksi nasional.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 787 sumur siap untuk segera direaktivasi. Selain itu, 3.972 sumur lainnya ditawarkan kepada investor melalui skema kerja sama yang lebih menarik. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan partisipasi swasta dalam sektor hulu migas.
Pemanfaatan teknologi mutakhir menjadi kunci utama dalam optimalisasi sumur eksisting. Teknologi seperti fracking, Enhanced Oil Recovery, dan horizontal drilling diterapkan untuk meningkatkan perolehan minyak. Upaya ini ditujukan untuk memaksimalkan sisa cadangan di lapangan yang telah berproduksi lama.
Tol Gas Perkuat Distribusi Energi Nasional
Di sektor gas bumi, pemerintah mempercepat pembangunan jaringan pipa gas nasional atau Tol Gas. Infrastruktur ini dirancang untuk memastikan pasokan energi yang lebih murah dan stabil bagi industri dan rumah tangga. Dua proyek strategis nasional menjadi tulang punggung integrasi gas bumi.
Proyek Pipa Cisem Tahap 2 menghubungkan Batang dan Indramayu sepanjang 240 kilometer. Jalur ini ditargetkan rampung pada akhir Februari 2026. Dengan beroperasinya pipa tersebut, kelebihan pasokan gas dari Jawa Timur dapat dialirkan ke Jawa Barat hingga Sumatera.
Sementara itu, proyek Pipa Dusem sepanjang 541 kilometer menghubungkan Dumai dan Sei Mangke. Jalur ini akan menyalurkan potensi gas besar dari Blok Andaman ke kawasan industri Sumatera bagian selatan. Integrasi ini memperkuat sistem distribusi gas nasional secara menyeluruh.
Jargas Dorong Efisiensi Energi Rumah Tangga
Strategi migas nasional juga menyasar sektor rumah tangga melalui pengembangan jaringan gas kota. Pemerintah menargetkan pembangunan 1,15 juta Sambungan Rumah hingga pertengahan 2026. Program ini dirancang untuk memperluas akses energi yang lebih efisien bagi masyarakat.
Pengalihan konsumsi dari LPG 3 kilogram ke jaringan gas dinilai memberikan manfaat fiskal signifikan. Kebijakan ini diperkirakan mampu menghemat subsidi negara hingga Rp0,21 triliun per tahun. Selain itu, devisa impor LPG dapat ditekan sekitar Rp0,33 triliun per tahun.
Prioritas pembangunan jargas difokuskan di wilayah Pulau Jawa. Beberapa daerah sasaran utama meliputi Tangerang, Bekasi, Bogor, dan Pasuruan. Langkah ini diharapkan mempercepat pemerataan akses energi bersih dan terjangkau.
Kilang Balikpapan Perkuat Hilirisasi Migas
Untuk menekan ketergantungan impor bahan bakar minyak, pemerintah mengandalkan proyek Refinery Development Master Plan Balikpapan. Proyek ini menjadi salah satu investasi terbesar di sektor hilir migas nasional. Nilai investasinya mencapai 7,4 miliar dolar Amerika Serikat.
Dengan pengembangan tersebut, kapasitas kilang Balikpapan meningkat menjadi 360.000 barel per hari. Peningkatan kapasitas ini diharapkan mampu memperkuat pasokan BBM dalam negeri. Dampaknya, impor BBM dapat ditekan secara signifikan.
Proyek ini diproyeksikan mengurangi impor BBM hingga Rp68 triliun per tahun. Angka tersebut memberikan kontribusi besar terhadap penguatan ekonomi nasional. Optimalisasi lifting, infrastruktur, dan jargas menjadi fondasi menuju masa depan energi yang mandiri dan pro-rakyat.