EKONOMIDIGITAL.CO.ID — Activision menutup era Modern Warfare lewat Modern Warfare 4, yang mereka juluki sebagai "epic conclusion" dalam trailer kampanye terbaru. Peluncuran ini menandai akhir dari quadrilogy yang dimulai sejak reboot waralaba pada 2019, memicu pertanyaan soal arah masa depan Call of Duty. Bagi pemain di Indonesia, momen ini menentukan apakah raksasa game besutan Microsoft itu masih relevan di pasar yang didominasi judul mobile dan free-to-play.
Trailer kampanye Call of Duty: Modern Warfare 4 dirilis dalam presentasi Xbox Tokyo Game Show. Akun resmi Call of Duty mengundang pemain untuk "menyaksikan epic conclusion" dari seri yang berjalan sejak 2019. Modern Warfare 4 melanjutkan alur cerita Modern Warfare 3 dan menutup quadrilogy yang dibangun ulang dari nol enam tahun lalu.
Frasa "epic conclusion" itu memicu spekulasi di kalangan penggemar. Apakah ini benar-benar akhir dari Modern Warfare sebagai sub-waralaba, atau hanya jeda sebelum reboot berikutnya. Yang pasti, Call of Duty 2027 sedang digarap Sledgehammer Games dan diprediksi menjadi sub-seri baru pertama dalam enam tahun.
Empat Belas dari Dua Puluh Tiga Judul: Kelelahan yang Tak Terhindarkan
Sejak 2019, Activision telah merilis empat game Modern Warfare, tiga Black Ops, dan satu Vanguard. Hingga 23 Oktober nanti, dua sub-seri utama itu menyumbang 14 dari total 23 judul Call of Duty yang pernah ada. Dominasi ini bukan tanpa alasan bisnis.
Judul seperti Ghosts, Advanced Warfare, Infinite Warfare, WW2, dan Vanguard memang tidak diterima sebaik Modern Warfare maupun Black Ops. Namun, kelelahan pemain terhadap dua nama besar itu dinilai mulai terasa, bahkan jika hanya di alam bawah sadar.
Lima tahun terakhir memperlihatkan pola rilis beruntun: Modern Warfare berturut-turut, lalu Black Ops berturut-turut, kemudian kembali ke Modern Warfare. Strategi ini terbukti sukses secara metrik, tetapi tidak bisa bertahan selamanya.
Bayang-Bayang Nostalgia dan Konteks Pandemi
Modern Warfare 2019 sering dikenang sebagai puncak. Ada faktor kacamata kaca rose-tinted di baliknya. Game itu dan Warzone hadir di tahun yang sama ketika dunia terkurung di rumah akibat pandemi. Kondisi itu memberi waktu bermain yang tidak wajar bagi banyak orang.
Penulis mengaku sempat menjauh dari Call of Duty setelah Black Ops 4 karena tidak cocok dengan Modern Warfare yang baru. Pengalaman itu menunjukkan bahwa loyalitas pemain tidak sekadar soal kualitas teknis, tetapi juga momentum dan konteks hidup.
Treyarch Siapkan Sesuatu yang Belum Pernah Ada
Treyarch telah memberi sinyal bahwa studionya siap membuat "sesuatu yang baru dan sesuatu yang belum pernah dialami siapa pun" saat gilirannya tiba beberapa tahun lagi. Pernyataan itu menjadi harapan bagi pemain yang menginginkan penyegaran.
Black Ops 6 dan Black Ops 7 sendiri, menurut penulis, masih layak dinikmati. Black Ops 7 dinilai tidak sepenuhnya pantas menerima banyaknya kritik negatif yang mengalir. Meski begitu, kebutuhan akan sesuatu di luar Black Ops dan Modern Warfare semakin mendesak.
Kritik lain menyasar desain game yang terasa dibangun hanya untuk menjadi platform bagi Warzone. Ini menjadi keluhan berulang di komunitas, terutama bagi pemain yang lebih menyukai mode kampanye dan multiplayer tradisional.
Tantangan Microsoft: GTA 6 dan Keputusan Game Pass
Microsoft menghadapi tekanan ganda. Keputusan tidak menempatkan Modern Warfare 4 di Game Pass diprediksi memengaruhi jumlah pemain. Apalagi, GTA 6 dijadwalkan meluncur kurang dari sebulan setelahnya.
Jika Microsoft ingin menjaga Call of Duty tetap menjadi mesin uang, langkah berani diperlukan. Mempertahankan formula lama berisiko mempercepat kelelahan pemain. Namun, meninggalkan Modern Warfare dan Black Ops sepenuhnya juga bukan pilihan tanpa risiko.
Apa pun bentuknya, hanya waktu yang akan menjawab. Yang jelas, era Modern Warfare dan Black Ops sebagai tulang punggung tahunan waralaba ini sedang menuju titik balik.