JAKARTA — Mata uang rupiah membuka perdagangan pada Jumat (18/9) dengan catatan positif terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang dipicu oleh proses perbaikan jaringan pipa di Arab Saudi. Mengacu pada data analisis Doo Financial Futures pukul 09.05 WIB, nilai tukar Garuda mengalami apresiasi sebesar 0,13% atau naik 23 poin menuju posisi Rp17.730 per dolar AS.
Kenaikan rupiah pada sesi pembukaan pagi hari ini selaras dengan pergerakan positif yang melanda sebagian besar mata uang di benua Asia. Ringgit Malaysia tampil sebagai yang paling perkasa di hadapan dolar AS dengan kenaikan 0,38%, disusul oleh dolar Taiwan yang naik 0,29%, peso Filipina terapresiasi 0,21%, lalu Yuan China meningkat 0,10%, serta rupee India bertambah 0,02%.
Sementara itu, dolar Hong Kong dan baht Thailand mencatatkan penguatan tipis yang sama-sama berada di angka 0,01% terhadap dolar AS.
Di sisi lain, won Korea Selatan mengalami pelemahan 0,37%, disusul oleh penurunan yen Jepang 0,17%, serta dolar Singapura yang terkoreksi 0,02%.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan bahwa rupiah akan mempertahankan tren kenaikannya di hadapan greenback pada perdagangan hari ini. Sentimen yang positif ini dipicu oleh merosotnya harga minyak mentah global bersamaan dengan meningkatnya ekspektasi bahwa Arab Saudi akan memulihkan sekitar separuh pasokan minyaknya yang terganggu lewat perbaikan pipa yang rusak dalam beberapa hari ke depan.
"Perkembangan tersebut turut menekan indeks dolar AS dan imbal hasil atau yield obligasi AS," kata Lukman.
Ia memperkirakan fluktuasi nilai tukar rupiah akan bergerak di rentang Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS untuk hari ini.
Lukman menambahkan bahwa saat ini belum terdapat sentimen penggerak yang signifikan dari dalam negeri, sehingga pergerakan rupiah di pasar uang bakal sangat dipengaruhi oleh dinamika dari pasar global tersebut. Kondisi ini berjalan beriringan dengan mayoritas bursa regional Asia yang juga memperlihatkan pergerakan optimistis sejak awal pembukaan perdagangan hari ini.