JAKARTA - Upaya menghadirkan sistem pembayaran tol tanpa henti kembali menjadi fokus pemerintah setelah sebelumnya mengalami hambatan.
Proyek multi lane free flow (MLFF) yang telah lama dirancang kini kembali didorong dengan pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk rencana uji coba menyeluruh yang mencakup seluruh tahapan operasional.
Langkah ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam mempercepat modernisasi sistem transportasi jalan tol di Indonesia. Dengan sistem nir sentuh dan nir henti, MLFF diharapkan mampu meningkatkan efisiensi perjalanan serta mengurangi antrean panjang di gerbang tol yang selama ini menjadi keluhan pengguna.
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Wilan Oktavian mengatakan, proyek MLFF kembali didorong setelah adanya rekomendasi dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pada akhir 2025.
“Hal ini karena sebelumnya terdapat dua klaim yang berbeda, di mana dari BPJT atau BUJT menyatakan bahwa sistem belum berhasil, sementara dari Roatex menyatakan bahwa sistem tersebut sudah berhasil,” ujar Wilan Oktavian.
Uji Coba Menyeluruh dari Aplikasi hingga Transaksi Pembayaran
Berbeda dengan tahap sebelumnya, uji coba kali ini dirancang lebih menyeluruh atau end-to-end. Artinya, seluruh proses akan diuji mulai dari sisi pengguna hingga sistem pembayaran diterima oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).
Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh ekosistem MLFF benar-benar siap digunakan secara luas, tidak hanya dari sisi teknologi aplikasi, tetapi juga integrasi sistem dengan operator jalan tol.
Ia menjelaskan, uji coba kali ini akan dilakukan secara menyeluruh atau end to end, mulai dari proses pengguna mengunduh aplikasi hingga sistem pembayaran benar-benar diterima oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).
Tahapan ini menjadi krusial karena keberhasilan implementasi MLFF sangat bergantung pada sinkronisasi antara teknologi digital, infrastruktur, dan kesiapan pengguna.
Tahapan Pra Uji Coba dan Functional Test
Sebelum masuk ke tahap uji coba penuh, pemerintah akan melakukan pra uji coba sebagai langkah awal. Pada fase ini, pihak pengembang sistem, yakni Roatex, akan menyiapkan Term of Reference (TOR) yang menjadi acuan pelaksanaan uji coba.
Tahapan awal ini telah dimulai melalui pelaksanaan functional test yang dilakukan pada awal Maret 2026. Pengujian ini bertujuan untuk memastikan bahwa fitur-fitur dalam aplikasi berjalan sesuai dengan skenario yang telah dirancang.
“Dalam rangka menyiapkan TOR uji coba, kemarin pada tanggal 3 sampai 5 Maret telah dilakukan functional test. Functional test itu lebih ke mencoba demonstrasi fitur aplikasi yang ada di Cantas dan lebih ke positive scenario,” jelas Wilan Oktavian.
Selanjutnya, BPJT akan melakukan functional test tahap kedua yang lebih fokus pada kesiapan infrastruktur jalan tol. Hal ini penting untuk memastikan bahwa sistem MLFF tidak hanya berjalan di sisi aplikasi, tetapi juga kompatibel dengan kondisi lapangan.
Setelah seluruh tahapan ini selesai, pemerintah akan melanjutkan ke fase pra uji coba menyeluruh sebagai langkah menuju implementasi penuh.
Target Percepatan dan Harapan Implementasi Tahun Ini
Pemerintah menegaskan bahwa percepatan implementasi MLFF menjadi prioritas, dengan prinsip pelaksanaan yang mengedepankan kecepatan tanpa mengabaikan kualitas.
“Untuk target waktu pelaksanaannya, prinsipnya adalah semakin cepat semakin baik atau the sooner the better,” tutup Wilan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah ingin memastikan sistem ini segera dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama dalam mengurangi kemacetan di gerbang tol.
Keberhasilan implementasi MLFF juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi logistik serta mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sistem transportasi yang lebih modern dan terintegrasi.
Latar Belakang Proyek dan Potensi Dampaknya
Sebagai informasi, MLFF merupakan proyek yang telah diinisiasi sejak 2016, bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban ke Indonesia. Sistem ini dikembangkan oleh Roatex Ltd. melalui PT Roatex Indonesia Toll System (RITS), dengan pendanaan dari pemerintah Hungaria senilai US$300 juta atau sekitar Rp4,65 triliun.
Dengan nilai investasi yang besar dan waktu pengembangan yang cukup panjang, proyek ini menjadi salah satu inisiatif strategis dalam transformasi sistem transportasi nasional.
Melalui uji coba ulang yang lebih komprehensif, pemerintah berharap implementasi MLFF dapat segera terealisasi dan mengurangi antrean di gerbang tol.
Selain itu, penerapan sistem ini juga berpotensi mengubah pola perjalanan masyarakat menjadi lebih efisien dan nyaman. Pengguna tidak lagi perlu berhenti di gerbang tol, sehingga waktu tempuh dapat dipersingkat dan konsumsi bahan bakar dapat ditekan.
Dengan kombinasi antara teknologi digital dan infrastruktur yang semakin matang, MLFF diharapkan menjadi tonggak penting dalam modernisasi sistem jalan tol di Indonesia serta mendukung mobilitas yang lebih cepat dan efisien di masa depan.