Pengaruh Kopi dan Teh Terhadap Kepadatan Tulang Menurut Riset

Pengaruh Kopi dan Teh Terhadap Kepadatan Tulang Menurut Riset
Ilustrasi teh [FOTO: NET].

JAKARTA - Sebagian besar orang mengawali aktivitas harian mereka dengan menyeruput secangkir teh atau kopi. Kendati demikian, asupan kafein yang masuk ke tubuh setiap hari ternyata menyimpan fungsi yang jauh lebih krusial melampaui sekadar pemberi efek terjaga, khususnya berkenaan dengan tingkat kekuatan struktur tulang.

Sebuah riset ilmiah berjudul "Longitudinal Association of Coffee and Tea Consumption with Bone Mineral Density in Older Women: A 10-Year Repeated-Measures Analysis in the Study of Osteoporotic Fractures" yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients (2025) mencoba menelaah fenomena tersebut lebih dalam.

Melalui observasi mendalam terhadap 9.704 wanita berusia di atas 65 tahun dalam fase pascamenopause selama kurun waktu sepuluh tahun, studi mendapati bahwa kebiasaan mengonsumsi teh berkorelasi positif dengan tingkat kepadatan tulang yang lebih baik. Di sisi lain, kebiasaan menyeruput kopi melebihi takaran lima cangkir setiap hari justru diidentifikasi memicu penurunan densitas tulang.

Juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics, Melissa Prest, D.C.N., R.D.N., mengemukakan bahwa temuan ini membawa angin segar bagi para penikmat teh, sekaligus bukan berita buruk bagi pencinta kopi.

"Hal terpenting yang bisa diambil adalah teh tampaknya sejalan dengan kesehatan tulang yang baik pada wanita paruh baya, sedangkan konsumsi kopi yang wajar tidak terlihat sebagai masalah besar bagi kepadatan mineral tulang," tuturnya, mengutip Prevention, Kamis (17/9/2026).

Batas Aman Asupan Kopi dan Teh

Konsumsi kopi dalam takaran yang wajar terbukti tidak mendatangkan efek buruk bagi ketahanan struktur tulang. Gejala penurunan mineral tulang baru teramati pada kelompok responden yang membiasakan diri menenggak minimal lima cangkir kopi per hari.

Walau demikian, Prest mengingatkan agar publik tidak langsung menelan hasil riset ini mentah-mentah.

"Temuan tersebut harus dianggap sebagai sinyal untuk penelitian lebih lanjut alih-alih bukti bahwa asupan kopi yang tinggi menyebabkan hilangnya kepadatan tulang," tegasnya.

Bagi kalangan yang gemar menikmati teh, riset ini sekaligus mengesahkan bahwa rutinitas tersebut aman untuk diteruskan.

"Bagi seseorang yang menikmati teh, studi ini memberikan alasan tambahan untuk merasa senang memasukkan teh tanpa pemanis sebagai bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan," kata Prest.

Profesor madya ortopedi Yale School of Medicine sekaligus co-direktur program avascular necrosis & osteonecrosis Yale, Daniel Wiznia, M.D., memaparkan bahwa relasi antara konsumsi teh dan kualitas tulang memang terdeteksi, meskipun angka peningkatan signifikansinya tergolong sangat kecil.

"Apa yang ditunjukkan studi ini adalah adanya kaitan positif yang sangat kecil antara kebiasaan minum teh dan kepadatan tulang. Namun, meski secara statistik terbilang signifikan, hal itu belum tentu menjadi peningkatan yang bermakna secara klinis," ujarnya.

Menurut pandangan dr. Wiznia, poin utamanya adalah apabila seseorang telah terbiasa minum teh, jalani saja rutinitas tersebut seperti biasa. Sebaliknya, jika seseorang tidak memiliki kebiasaan minum teh, tidak ada kewajiban untuk mendadak meminumnya semata-mata karena dorongan hasil riset ini. Prinsip serupa juga berlaku bagi para pencinta kopi.

Kunci Utama Menjaga Kekuatan Tulang

Fondasi utama dalam merawat kesehatan serta ketahanan tulang adalah penerapan pola makan yang seimbang dan komprehensif, yakni rutin menyantap buah-buahan, sayuran segar, serta asupan kaya kandungan kalsium beserta vitamin D. Rangkaian nutrisi tersebut dipastikan mampu membantu mempertahankan densitas tulang.

"Tulang membutuhkan nutrisi yang memadai, termasuk kalsium, vitamin D, dan protein, untuk mempertahankan strukturnya dan mendukung proses perombakan tulang secara normal," ujar Prest.

Kebutuhan kalsium dapat dipenuhi lewat produk olahan susu, yoghurt, hingga tahu. Sementara itu, asupan vitamin D bersumber dari telur, ikan sarden, maupun jenis ikan laut lainnya. Di sisi lain, pemenuhan protein optimal bisa diperoleh melalui konsumsi biji-bijian, kacang-kacangan, lentil, serta kedelai.

Aktivitas fisik juga memegang peranan esensial dalam upaya pencegahan risiko pengeroposan tulang atau osteoporosis.

"Tulang bereaksi terhadap beban mekanis, dan menjaga massa otot sangat membantu menurunkan risiko terjatuh serta patah tulang," terang Prest.

Menyadari keterbatasan karakteristik dari studi observasional ini, Prest menggarisbawahi bahwa kelompok orang yang rutin minum teh bisa jadi memiliki perbedaan gaya hidup lain yang turut mempengaruhi kesehatan tulang, terlepas dari variabel yang telah dikontrol oleh para periset.

Beberapa variabel tersebut mencakup faktor usia, indeks massa tubuh (IMT), riwayat merokok, konsumsi alkohol, takaran asupan kalsium dan protein, tingkat aktivitas fisik, konsumsi obat-obatan, hingga status kesehatan secara keseluruhan.

"Pada akhirnya, teh sekadar pelengkap pola hidup sehat. Jangan minum teh sekadar karena kamu pikir itu bisa mencegah osteoporosis. Minumlah karena kamu menyukainya dan minuman itu bisa sangat pas masuk ke dalam pola makan sehatmu," pungkas Prest.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index