Kiat Unilever (UNVR) Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Bisnis

Sabtu, 19 September 2026 | 18:17:31 WIB
PT Unilever Indonesia Tbk [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) menyatukan prinsip keberlanjutan ke dalam segenap alur bisnis, mulai dari tahap penyeleksian bahan baku, proses manufaktur, sampai pengelolaan kemasan usai dipakai konsumen.

Director of Communication, Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia Nurdiana Darus menjelaskan komitmen keberlanjutan perseroan telah mengudara lebih dari dua dekade dan kini menapak fase ketiga, yang mana ranah keberlanjutan tidak lagi dijadikan agenda terpisah dari rantai bisnis.

“Yang berbeda pada fase ketiga ini adalah bagaimana kami mengintegrasikan dan melekatkan keberlanjutan ke dalam proses bisnis,” kata Nurdiana dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan pada sesi diskusi Growing with Purpose: Business Leadership for Sustainable Impact di agenda Katadata SAFE 2026, Kamis (17/9/2026).

Implementasi itu diawali dari pemilihan pasokan bahan baku lewat komitmen sustainable sourcing yang diusung Unilever sejak 2010.

 Menggunakan pendekatan tersebut, perseroan melacak rekam jejak bahan baku yang dipakai sekaligus mengawasi mekanisme perolehannya terhadap faktor manusia dan lingkungan.

“Kami mengetahui bahan-bahan yang digunakan berasal dari mana. Dengan begitu, kami dapat memantau apakah bahan tersebut diperoleh dari sumber yang baik bagi manusia dan lingkungan,” ujarnya.

Prinsip keberlanjutan turut diterapkan pada alur produksi menggunakan standar operasional dan penjaminan mutu guna menjaga keamanan serta mutu produk.

Pada fase pengemasan, Unilever memegang empat komitmen mengenai bahan plastik. Pertama, menekan pemakaian plastik baru (virgin plastic). Kedua, menggenjot penggunaan material hasil daur ulang pada kemasan. 

Ketiga, perseroan merancang kemasan yang dapat didaur ulang, dipakai kembali, atau terurai secara hayati. Keempat, Unilever berkomitmen menghimpun serta mengolah sampah plastik dengan jumlah melebihi penggunaan plastiknya.

“Komitmen ini datang dari tingkat global dan diterapkan di semua pasar, termasuk Indonesia,” kata Nurdiana.

Indonesia sendiri berkedudukan sebagai salah satu dari lima pasar terbesar Unilever di tingkat global. Perseroan turut membidik target emisi nol bersih (net zero emissions) pada 2039. 

Target itu selanjutnya dituangkan ke dalam operasional pabrik dan menjadi bagian dari tanggung jawab pimpinan tertinggi perusahaan.

Mitra Lingkungan 

Di samping membenahi area internal, Unilever turut mengasah pendekatan keberlanjutan lewat jalur kolaborasi bersama organisasi lingkungan. 

Perseroan menggandeng delapan organisasi nonpemerintah di bermacam daerah untuk menangani problematika sampah plastik.

Kemitraan yang diinisiasi sejak 2008 itu telah menopang sekitar 5.000 bank sampah serta 2.900 stasiun isi ulang di bank sampah maupun lokasi strategis lainnya.

Dalam perjalanannya, Unilever tidak sekadar mengucurkan bantuan pada kegiatan lingkungan, melainkan turut memacu organisasi mitra agar memiliki model bisnis yang mandiri. 

Pada 2024, perseroan membantu memperkuat kapasitas dua organisasi mitra lewat sokongan Foreign, Commonwealth and Development Office Pemerintah Inggris serta kolaborasi bersama Ernst & Young, GIZ, dan Kementerian Lingkungan Hidup.

“Kami membantu meningkatkan kapasitas mereka agar dapat bertransformasi menjadi wirausaha sosial dan membangun bisnis yang menguntungkan,” kata Nurdiana.

Saat ini, lima dari delapan organisasi mitra Unilever tersebut sukses bertransformasi menjadi wirausaha sosial.

Menurut Nurdiana, penggerak aksi lingkungan di lapangan perlu memperoleh peluang untuk tumbuh menjadi pelaku usaha lantaran telah mengantongi rekam jejak dan pemahaman mendalam mengenai persoalan lingkungan di area masing-masing.

Transformasi tersebut juga diharapkan sanggup membuat organisasi menjaga keberlanjutan kegiatan lingkungannya tanpa terus bergantung pada dana hibah. 

Apabila pengelolaan sampah memiliki modal usaha yang proporsional, dampak lingkungan dan kemanfaatan ekonomi dinilai dapat berjalan beriringan.

“Keberlanjutan tidak bisa hanya berada di level CSR. Prinsip tersebut harus diintegrasikan dan masuk ke dalam bisnis,” ujarnya.

Tags

Terkini