EKONOMIDIGITAL.CO.ID — PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) memindahkan isu keberlanjutan dari agenda terpisah menjadi bagian melekat dalam rantai bisnis, dari pemilihan bahan baku sampai pengelolaan sampah kemasan. Perusahaan menargetkan emisi nol bersih pada 2039 dan telah menggandeng delapan organisasi lingkungan untuk mengelola sampah plastik di sejumlah daerah.
Director of Communication, Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia Nurdiana Darus menyatakan komitmen keberlanjutan perseroan sudah berjalan lebih dari dua dekade dan kini masuk fase ketiga. Pada fase ini, aspek keberlanjutan tidak lagi ditempatkan sebagai program tersendiri di luar operasional perusahaan.
"Yang berbeda pada fase ketiga ini adalah bagaimana kami mengintegrasikan dan melekatkan keberlanjutan ke dalam proses bisnis," kata Nurdiana dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026).
Pernyataan itu disampaikannya dalam sesi diskusi Growing with Purpose: Business Leadership for Sustainable Impact di acara Katadata SAFE 2026, Kamis (17/9/2026). Indonesia sendiri tercatat sebagai salah satu dari lima pasar terbesar Unilever secara global.
Penelusuran Bahan Baku Sejak 2010
Penerapan prinsip keberlanjutan dimulai dari hulu. Melalui komitmen sustainable sourcing yang dijalankan sejak 2010, Unilever menelusuri asal bahan baku dan memantau proses perolehannya dari sisi manusia serta lingkungan.
"Kami mengetahui bahan-bahan yang digunakan berasal dari mana. Dengan begitu, kami dapat memantau apakah bahan tersebut diperoleh dari sumber yang baik bagi manusia dan lingkungan," ujar Nurdiana.
Di lini produksi, perusahaan menerapkan standar operasional dan penjaminan mutu untuk menjaga keamanan serta kualitas produk. Adapun target emisi nol bersih pada 2039 diterjemahkan ke dalam operasional pabrik dan menjadi bagian pertanggungjawaban pimpinan tertinggi perseroan.
Empat Komitmen Plastik Unilever
Pada tahap pengemasan, Unilever mengikatkan diri pada empat komitmen terkait plastik yang berlaku di semua pasar, termasuk Indonesia.
- Mengurangi penggunaan plastik baru atau virgin plastic.
- Meningkatkan porsi material daur ulang dalam kemasan.
- Mengembangkan kemasan yang dapat didaur ulang, digunakan kembali, atau terurai secara hayati.
- Mengumpulkan dan memproses sampah plastik dalam jumlah melebihi penggunaan plastik perseroan.
"Komitmen ini datang dari tingkat global dan diterapkan di semua pasar, termasuk Indonesia," kata Nurdiana.
Delapan Mitra, 5.000 Bank Sampah
Selain membenahi proses internal, Unilever menggandeng delapan organisasi nonpemerintah di sejumlah daerah untuk menangani persoalan sampah plastik. Kolaborasi yang dimulai sejak 2008 itu telah mendukung sekitar 5.000 bank sampah dan 2.900 stasiun isi ulang di bank sampah maupun sejumlah lokasi strategis lain.
Pendekatan perusahaan bergeser dari sekadar dukungan kegiatan lingkungan menjadi penguatan model usaha mitra. Pada 2024, Unilever membantu meningkatkan kapasitas dua organisasi mitra lewat dukungan Foreign, Commonwealth and Development Office Pemerintah Inggris serta kolaborasi dengan Ernst & Young, GIZ, dan Kementerian Lingkungan Hidup.
"Kami membantu meningkatkan kapasitas mereka agar dapat bertransformasi menjadi wirausaha sosial dan membangun bisnis yang menguntungkan," ujar Nurdiana.
Lima Mitra Beralih Jadi Wirausaha Sosial
Hasilnya, lima dari delapan organisasi mitra Unilever kini berkembang menjadi wirausaha sosial. Menurut Nurdiana, penggerak kegiatan lingkungan di lapangan perlu mendapat kesempatan berkembang menjadi pelaku bisnis karena sudah memiliki pengalaman dan pemahaman soal persoalan lingkungan di wilayah masing-masing.
Transformasi itu diharapkan membuat organisasi mitra dapat mempertahankan kegiatan lingkungannya tanpa terus bergantung pada hibah. Ketika pengelolaan sampah punya model usaha yang layak, dampak lingkungan dan manfaat ekonomi dinilai bisa berjalan bersamaan.
"Keberlanjutan tidak bisa hanya berada di level CSR. Prinsip tersebut harus diintegrasikan dan masuk ke dalam bisnis," kata Nurdiana.