EKONOMIDIGITAL.CO.ID — Bank of Japan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen pada Jumat (18/9), kenaikan keenam sejak Gubernur Kazuo Ueda menjabat. Langkah ini diambil untuk menekan inflasi yang meningkat sekaligus merespons desakan terbuka Washington agar Jepang melanjutkan normalisasi kebijakan moneter. Setelah keputusan tersebut, yen melemah ke 156,95 per dolar AS.
Hasil pemungutan suara dewan BOJ berakhir 7-2. Dua anggota, Toichiro Asada dan Ayano Sato, menyatakan perbedaan pendapat terhadap kenaikan tersebut.
Kenaikan Tercepat dalam 36 Tahun
Jeda antara kenaikan kali ini dan kenaikan sebelumnya hanya tiga bulan. Itu merupakan selang waktu terpendek antara dua kenaikan suku bunga sejak 1990, ketika pengetatan agresif bank sentral berperan besar dalam pecahnya gelembung aset Jepang.
Ini menjadi kenaikan suku bunga keenam selama masa jabatan Gubernur Kazuo Ueda. Jumlah itu terbanyak dibandingkan kepala BOJ mana pun dalam setidaknya setengah abad terakhir.
Langkah BOJ kali ini dilakukan saat bank sentral menghadapi risiko inflasi yang semakin besar. Desakan dari Washington juga semakin terbuka, dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent berulang kali meminta Jepang menaikkan suku bunga.
Yen Justru Melemah ke 156,95 per Dolar AS
Nilai tukar yen melemah menjadi 156,95 per dolar AS setelah keputusan yang sudah diperkirakan luas itu diumumkan. Pasar tampaknya tidak menemukan sinyal kuat dari pernyataan BOJ.
Pernyataan bank sentral Jepang dinilai tidak menunjukkan bahasa yang lebih hawkish. Akibatnya, spekulasi positif terhadap mata uang Jepang tidak mendapat dorongan berarti.
Pelemahan yen membuka peluang tekanan baru bagi perekonomian Jepang. Biaya impor bahan bakar dan pangan berpotensi naik, sementara daya beli rumah tangga tergerus.
Dampak ke Pasar Global dan Indonesia
Kenaikan suku bunga Jepang berpotensi mengubah arah aliran modal di kawasan Asia. Selama bertahun-tahun, suku bunga Jepang yang sangat rendah membuat yen menjadi sumber pendanaan murah bagi investor global, termasuk yang beroperasi di pasar Indonesia.
Jika imbal hasil aset Jepang terus naik, sebagian dana itu berpeluang kembali ke Tokyo. Bagi investor ritel Indonesia yang memegang reksa dana berdenominasi yen atau saham Jepang, pergerakan kurs menjadi faktor yang perlu dicermati.
Namun, BOJ tetap berhati-hati. Kenaikan hanya 25 basis poin menunjukkan bank sentral belum ingin mempercepat pengetatan secara agresif, meski jeda antar-kenaikan sudah sangat pendek.
Pelaku pasar kini menunggu apakah Gubernur Kazuo Ueda memberi sinyal kenaikan lanjutan pada pertemuan berikutnya. Selama sinyal itu belum muncul, yen diperkirakan masih rentan melemah terhadap dolar AS.