Iran Kunci Selat Hormuz, Syaratkan Trump dan Netanyahu Lengser Lebih Dulu

Iran Kunci Selat Hormuz, Syaratkan Trump dan Netanyahu Lengser Lebih Dulu

EKONOMIDIGITAL.CO.ID — Penasihat politik senior Iran, Mohammad-Bagher Zolghadr, menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama Donald Trump dan Benjamin Netanyahu masih berkuasa. Pernyataan itu disampaikan di tengah perang yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran, dan disebut Teheran sebagai tahap pertama pembalasan mereka.

Pernyataan Zolghadr disampaikan melalui wawancara dengan kantor berita Al Mayadeen. Ia menyebut penutupan selat strategis itu sebagai langkah balasan atas pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab memicu perang melawan Iran.

Syarat Mutlak Teheran: Trump dan Netanyahu Harus Lengser

Dalam pernyataannya, Zolghadr menyebut Trump dan Netanyahu dengan label keras. Ia menegaskan pasukan Iran tidak akan membuka jalur pelayaran itu sampai kedua pemimpin tersebut tersingkir dari kekuasaan.

"Pasukan Iran tidak akan membuka Selat Hormuz sampai penjahat Donald Trump dan algojo Benjamin Netanyahu dilengserkan dari kekuasaan," ujar Zolghadr, seperti dikutip Al Mayadeen.

Ia menggambarkan sikap tersebut sebagai "tahap pertama dari pembalasan rakyat kami." Rumusan itu menempatkan penutupan selat bukan sebagai taktik militer sementara, melainkan bagian dari strategi pembalasan yang lebih luas.

Klaim Iran soal Kegagalan Serangan Musuh

Zolghadr mengeklaim rakyat Iran berhasil menahan serangan yang bertujuan menaklukkan negara itu dalam hitungan hari. Menurutnya, ketahanan warga menjadi pukulan bagi pihak yang memperkirakan Teheran tumbang cepat.

"Keteguhan dan ketangguhan rakyat Iran menjadi mimpi buruk bagi musuh yang datang dengan tujuan menaklukkan bangsa ini dalam waktu tiga hari," ujarnya. Ia menyebut target tersebut sebagai "ilusi semata."

Penasihat Iran itu menambahkan negaranya bertekad "mematahkan tulang punggung musuh agresor dan mempermalukan pihak-pihak yang sombong hingga tak berdaya."

Selat Hormuz dan Perang AS-Iran yang Belum Usai

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran tersibuk di dunia untuk pengiriman minyak mentah dan gas alam cair. Setiap gangguan di jalur ini berdampak langsung pada harga energi global dan biaya pengiriman.

Penutupan selat oleh Iran menambah lapisan konflik pada perang AS-Iran yang masih berjalan. Belum ada pernyataan resmi dari Washington maupun Tel Aviv terkait pernyataan Zolghadr.

Zolghadr adalah penasihat politik senior, bukan pejabat yang menandatangani kebijakan resmi. Posisinya sebagai penasihat membuat pernyataannya mencerminkan arah sikap Teheran, meski belum tentu identik dengan keputusan formal pemerintah Iran.

Posisi AS dan Israel Belum Dikonfirmasi

Hingga berita ini ditulis, tidak ada respons resmi dari Gedung Putih maupun kantor Perdana Menteri Israel. Bahan yang tersedia hanya memuat pernyataan dari pihak Iran.

Belum ada informasi soal apakah penutupan Selat Hormuz dilakukan secara fisik penuh atau hanya berupa ancaman strategis. Tidak ada data soal jumlah kapal yang terdampak atau durasi penutupan yang direncanakan.

Dampak ke pelayaran kapal berbendera Indonesia atau ekspor-impor RI melalui jalur tersebut juga belum disebut dalam bahan. Tidak ada keterangan soal WNI yang terdampak.

Yang Ditunggu: Respons Militer atau Jalan Diplomasi

Arah perang AS-Iran bergantung pada apakah Washington dan Tel Aviv merespons pernyataan Zolghadr dengan eskalasi militer atau membuka jalur negosiasi. Kedua opsi belum terlihat dalam bahan yang tersedia.

Yang jelas, syarat yang diajukan Teheran — lengsernya Trump dan Netanyahu — praktis menutup ruang perundingan jangka pendek. Tidak ada mekanisme politik yang bisa memenuhi tuntutan itu dalam waktu dekat.

Selat Hormuz tetap menjadi titik paling rawan dalam konflik ini. Setiap perubahan status jalur tersebut akan langsung terasa di pasar energi global, termasuk harga minyak yang dikutip dalam dolar AS.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index